image00021

Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh, kali ini ana mau membagi rangkuman sebuah buku yang isinya tentang Pacaran. Ya! Pacaran, setelah pernikahan. Buku yang menurut ana inspiratif ini ditulis oleh Salim A. Fillah dengan bahasa yang khas, diterbitkan oleh Pro-U Media. Happy Reading ^^

image00021

Alangkah seringnya

Mentergesai kenikmatan tanpa ikatan

Membuat detik-detik di depan terasa hambar

Belajar dari ahli puasa

Ada dua kebahagiaan baginya

Saat berbuka

Dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala

Inilah puasa panjang syahwatku

Kekuatan ada pada menahan

Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka penuh kejutan

Coba saja

Kalau Allah yang menghalalkan

Setitis cicipan surga

Kan jadi shadaqah berpahala

Buku ini dipersembahkan untuk mereka yang lagi jatuh hati atau sedang pacaran bersama doi, yang dipenuhi hasrat nikah dini tapi belum bernyali, yang sedang menjalani proses penuh liku dan yang ingin melanggengkan masa-masa indah pernikahannya.

**Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan**

Setiap manusia pasti memiliki nafsu. Namun jangan pernah kita menyesali keberadaan nafsu dalam diri kita, justru Allah SWT menjadikannya amanah yang dipercayakan agar kita meletakkannya dalam ketaatan sebagaimana ia gariskan. Banyak dari kita yang belum bisa membedakan antara nafsu dan cinta. Biasanya, ‘virus’ nafsu-cinta ini mewabah di kalangan remaja yang membuat mereka menghalalkan hubungan dengan istilah Pacaran. Iya? Tidak? Atau bisa jadi? Hayo~

Simak surat Al Isra’ ayat 32 berikut

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Zina itu bukan hanya peristiwa dimana kalian pegang-pegangan tangan, dan pada akhirnya berupa peristiwa dimana seorang gadis dinikahkan karena dihamili. Zina itu berupa pacaran yang oleh orangtua ‘modern’ dikatakan sebagai “Anak saya masih mengerti batas-batasnya”. Batas Apa?

Zina itu tidak hanya menggores yang ada diantara pusat dan lutut, semua indera dan anggota tubuh bisa jadi terdakwa. Mata, telinga, lisan, tangan, kaki, bahkan angan. Seperti hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

”Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)

Tau nggak sih hakikat cinta itu apa?

Oiya, ada kisah cinta dari Abdurrahman bin Abu Bakar dengan istrinya Atikah. Amat kuat ikatan mereka berdua, seolah tak ada yang bisa memisahnya. Jangan sampai,pikir Abu Bakar, cinta Abdurrahman pada isteri membuatnya melalaikan jihad dan ibadah. Abu Bakar pun menyuruh Abdurrahman untuk menceraikan Atikah, dan dilaksanakanlah perintah Ayahnya. Tentu saja, nelangsa perasaan Abdurrahman menanggung beban perceraian. Selama ini meski ia mencintai Atikah dengan penuh kesungguhan,tapi ia tetap berusaha agar cinta tak menodai ikrar pada Allah untuk berjihad, sampai akhirnya lahirlah syair yg dikenang sejarah:

Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari kan terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia
Dithalaq karena dosanya
Dia berakhlak mulia, beragama,
dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu,
dan halus tutur katanya

Luluhlah hati sang Ayah, akhirnya mereka diijinkan rujuk kembali. Saat itulah Abdurrahman bin Abu Bakar menunjukkan kesucian cintanya. Ia buktikan, bahwa cinta kepada istri tak pernah melebihhi cinta akan Allah, Rasul, dan jihad sampai ia syahid dalam perang tak berapa lama kemudian.

Masih berani bilang pacaran karena cinta? Betapa persepsi kita atas cinta begitu jauh dari apa yang difahami Abu Bakar maupun Abdurrahman. Cinta suami istri yang halaalan thayyiban pun masih membuat mereka risau akan ridha Allah. Sementara kita enteng saja mengatakan bahwa kita mencintai dia karena Allah.

Cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab. Bukan cinta abadi jika disebabkan oleh kecantikan fana, kekayaan, atau perangai sandiwara. Pacaran itu cuma alternative bagi pengecut untuk menanggung beban berumah tangga tapi begitu licik untuk mentergesai sisi-sisi indah dalam hubungan dua insan.

Sebenarnya selama pacaran, dua insan itu bukannya berusaha saling memahami tapi berusaha tampil lebih baik dari yang sebenarnya dan menyembunyikan diri masing-masing alias munafik. Ibarat memasang iklan semenarik mungkin, takut sang pelanggan meninggalkan. Pacaran juga menyebabkan pergeseran orientasi dalam amalan. Misalnya ketika kita bertahajjud karena dia, bukan Dia. Apa-apa karena dia, bukan Dia. Kalau semua karena dia, bukan Dia, kita ke akhirat bekal apa coba.

Tak salah jika Salim A. Fillah mengibaratkan pacaran itu seperti sup kaldu yang bumbunya dimakan dulu. Mereka yang metergesai kenikmatan saat pacaran, membuat detik-detik awal pernikahan terasa hambar. Kelezatan dan kejutan sudah habis terpenuhi tuntutan syahwat yang haram saat pacaran. Yang tersisa ya tinggal dosa dan hina.

penampakan sup kaldu

penampakan sup kaldu

**

Cinta yang sehat adalah cinta yang ada ikrar halal diatasnya, yang mendidikkan kecerdasan, kematangan emosi, ketenangan hati dan kedewasaan berpikir, mengajarkan kesabaran menahan syahwat atau membingkainya dalam ikatan suci yang diridhai Allah.

Sedangkan berpacaran adalah cinta yang tidak sehat serta membuat syaitan bahagia. Nggak sadar ya ditipu syaithan? Kasihan banget sih. Makanya, putuskan pacar sekarang!

Nah setelah mutusin pacar, syaitan tak akan tinggal diam. Ia akan menggunakan titik-titik lemah manusia seperti mata, hati, dan ingatan sebagai alat penggoda. Oleh sebab itu, bulatkan tekad dan teguhkanlah hati.

Sebagai laki-laki, hendaknya mampu menjaga pandangannya. Karena pandangan lelaki seringkali membuat si perempuan GeEr. Biasanya perempuan akan merasa diperhatikan, belum lagi jika si lelaki menambahkan senyum dan kelakuan yang bisa memberi pengertian lain. So, jangan tebar pesona ya hehehe.

Bukan hanya laki-laki saja yang perlu menjaga pandangan mereka, tapi perempuan juga. Hendaknya sebagai muslimah memakai kerudung. Karena kerudung adalah mahkota yang juntainya hingga ke dada, sebagai penutup aurat, pakaian yang indah, dan pakaian taqwa.

Sebagai perempuan, sangat berperan besar dalam membantu laki-laki dalam menjaga pandangannya dengan tidak berhias berlebihan, menjaga pendengaran dengan mengendalikan suaranya, menjaga indera penciuman dengan tak berparfum ria, serta menjaga kulitnya agar tak saling bersentuhan.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

**

Inilah puasa panjang syahwatku

Saat berbuka itu tak lama lagi

Dan rasa nikmat itu, ada pada keterkejutan

Allah menjanjikan surga bagi kita yang bisa menahan hawa nafsu. Dalam proses menahan itu kita bisa mengisinya dengan dzikrullah, puasa, sabar dan sholat, tarbiyah, dan aktivitas dakwah hingga sampai waktu berbuka yakni pernikahan, hubungan yang halallan tayyiban.

Seseorang yang sudah mampu, disunnahkan menikah untuk menghindari fitnah. Melalui pernikahan, maka seseorang dapat terjaga perasaannya, gejala psikologis & gejolak jiwa dengan mencukupi kebutuhan, rasa tenteram, rasa kasih sayang, menenangkan dan rasa perlindungan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar Rum 21)

Jadi, ikatan pernikahan itu menghalalkan apa yang haram dan menjadikan apa yang sebelumnya dosa menjadi pahala dan bahkan menggugurkan dosa dari sela jemari kita. Nikmatnya pacaran setelah pernikahan betapa ia ingin mengajak menjaga kesucian bagi kita yang sedang menanti keindahan.

Sekian dan semoga bermanfaat ^^

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Nb: take out with full credit, ok? ok.

2 comments on “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

  1. Pingback: Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan | Muhamad Reza Habibi

  2. Pingback: Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan | Muhamad Reza Habibi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s