Cinta Tapi Beda

Cover Cinta Tapi Beda

Assalamualaikum akhi wa ukhti fillah… Kali ini kami selaku pemegang blog yang baru akan mem-publish artikel debut kami yang pertama dengan mengulas film Cinta Tapi Beda yang di sutradarai oleh Hanung (kalau tidak salah suami dari Zaskya Mecca)

Sebelum kita ke topik utama kami ingin mengucapkan banyak maaf karena baru mem-publish artikel terbaru pada saat ini. Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa tidak dari dahulu?! Yeah, sebenarnya kami pada saat dahulu bingung mau mengisi blog ini dengan apa… sampai akhirnya kami memutuskan “isi saja dengan apa yang sekiranya seru pada saat ini”

Oke, jadi mari kita langsung menuju artikel saja. Enjoy the article!!

Di akhir tahun 2012, ‘Film Cinta Tapi Beda’ mengawali petualangan Hanung dalam dunia perfilman. Film ini mengisahkan dua muda-mudi yang berbeda keyakinan. Untuk film ini, Hanung juga menggandeng sutradara Hestu Saputra dan musisi Eross Candra, yang juga pelaku cinta beda agama.

Film ini tentu menggiring pembaca untuk membenarkan pernikahan beda agama. Padahal ini adalah perkara sensitif dalam Islam karena sudah menyangkut akidah.
Hanung pun kemudian juga harus menghadapi protes dari umat Islam Minangkabau. Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) mendesak Hanung Bramantyo meminta maaf kepada masyarakat Minangkabau sekaligus menghentikan penayangan film tersebut di bisokop-bioskop.
“Kami pengurus pengurus pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jaya (KMM JAYA) sangat terusik (terhina) dengan film ini,” kata pengurus pusat KMM Jaya Muhammad Rozi.
Ke­tua Umum Lembaga Kera­patan Adat Alam Minang­ka­bau (LKAAM) Kota Pa­ya­kum­buh Indra Zahur Da­tuak Rajo Simarajo dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Paya­k­umbuh Haji Mismardi, juga terang-terangan, meminta film ”Cinta Tapi Beda”, dari peredaran. ”Jangan sampai ada yang bere­dar atau diputar lagi, apalagi di Payakumbuh,” kata mereka.
Menurut Indra Zahur dan Mismardi, film Cinta Tapi Beda, sangat tidak sesuai de­ngan ajaran adat Minang. ”Se­jak leluhur kita menga­jarkan ni­lai-nilai kehidupan, ber­aga­ma, berkorong berkampung, nilai-nilai Islam tetap melekat da­lam ajaran adat Minang. Artinya, orang Minang itu ada­lah kaum muslim dan mus­limah, pemeluk Islam.
”Kalau ia tak beragama Islam, itu bukan orang Minang. Ka­mi takut, film ini akan merusak sendi-sendi adat dan bu­daya masyarakat Minang da­lam berkehidupan sehari-ha­ri yang sangat menjaga hu­bu­ngan antar sesama. Kami men­curigai, ada keinginan terse­lu­bung dari orang-orang yang ikut mendukung film tersebut ditayangkan. Misalnya, ingin menghancurkan adat dan bu­daya masyarakat Minang,” kata Indra Zahur dan Buya Mis­mardi.
***
Oke, That’s it!! Berhubung sampai saat ini saya belum melihat film ini, jadi saya belum bisa komentar apapun. Tetapi, menurut saya film ini sedikit memiliki kemiripan konsep dengan film CIN(T)A. Yang film indie itu looh..
Jadi , Bagaimana menurut kalian semua?! Beri komentar dan tanggapannya yaa!!
Syukron, Assalamualaikum akhi wa ukhti!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s