Cerpen yang tertunda…

Assalamu’alaykum Warahmatullah..

Kaifa khaluk akhi wa ukhti, sepertinya sudaaaah lama sekali tidak me’rumat’ blog ini, kesibukan kenaikan kelas, progja akhir dan sebagainya buat admin makin jarang bersua dengan blog ini.

Alhamdulillah menjelang kenaikan kelas kemaren, majalah Al-Furqan 8 telah terbit!!!! temen-temen semua (terutama anak smanisda) udah baca beluuum ? oke, postingan ini mungkin akan menjawab tanya kalian soal cerpen di majalah al furqan 8 yang kayaknya gantung itu. berikut ini adalah full versionnya. Enjoy!

Ada Apa Dengan Ersa  

“Huffft, hari ini sekolah nyebelin banget… ulangan tadi suram amat ya..”, Kara merengut kepadaku. Iih, yang salah siapa, yang disewotin siapa.

Aku pun begitu. Aku merasa sekolah hari ini benar-benar menyebalkan. Oke, setelah ini aku harus langsung pulang, makan, tidur. Gak ada permasalahan sekolah yang dibawa kerumah, seperti hari-hari lain. Gak peduli bagaimana sesuntuk  sekolah hari itu, aku gak mau sampe rumah tetep sesuntuk aku sekarang.

Kara dan aku terus berjalan menyusuri lorong sekolah yang masih cukup ramai. Pulang sekolah masih banyak anak-anak yang sekedar nongkrong di sekolah.

Gak lama, aku berpapasan dengan Ersa Pamungkas. Cowok yang bernama sama denganku—Ersania Ashila—dari kelas lain. Aku kelas IPA3 dan dia IPA1. Yap, emang namanya sama kayak aku. Bukan masalah namanya yang terlalu cewek, atau namaku yang terlalu cowok. Tapi aku merasa bagaimana namanya bisa sama denganku membuat aku sering memperhatikannya.

Dia cowok biasa saja, bahkan cenderung pemalas, itu yang kudengar dari teman-temanku. aku juga tahu kok, dia juga jarang ke musholla atau ikut-ikutan pengajian anak-anak rohis sepulang sekolah tiap hari sabtu. Tampang biasa aja, dan bahkan –aku dengar dari teman sekelasnya—ia lebih suka melukis, bidang yang menurutku sama sekali gak menolong ketika ujian nasional. Jangan tanya aku tahu hal ini darimana, tapi ya cukuplah aku sia-siakan waktu luangku buat cari tahu tentang cowok ini.

Sepulang sekolah itu aku melihatnya masuk ke musholla, sholat dhuhur barangkali. Sedang aku? Ya, aku kan bisa sholat dirumah, bagiku selama belum adzan ashar aku mending sholat dirumah. Badanku sudah lengket semua bau sumpeknya sekolah.

********

Well, hari ini ada kumpul-kumpul bareng anak rohis. Aku mendapat sms ajakan dari salah satu kakak rohis pada jam istirahat. Sebagai adik kelas 2 aku sering diajak kumpul-kumpul dengan kakak-kakak rohis di sekolahku. Tapi entah, ada perasaan aneh ketika kau harus berkumpul dengan orang-orang berjilbab selimut—haha, aku memang menyebutnya selimut karena ya… mereka menggunakan selimut untuk berjilbab, bukan kain jilbab yang biasanya—dan kau hanya memakai jilbab menutup dada yang seadanya. Jilbabku tidak panjang lo, dan bahkan jaman sekarang ada teman satu angkatanku yang tidak berjilbab mengikuti rohis. Aku memang mengikuti rohis untuk memperdalam ilmu agamaku, tapi ternyata aku terlalu sering mendapat pengaruh buruk jadinya mungkin kajian-kajian yang kudapat dari rohis sekolahku ini menguap begitu saja setelahnya. Teman-temanku mengajakku pulang dan aku memang anaknya hobi pulang. Tapi ada hati kecilku yang menyuruhku untuk ikut. Tumben amat nih hati.

Aku letakkan hape di meja seusai membaca sms ajakan kakak rohisku.

“Sa, kamu gak capek ta? Wes pulang ae looh..”, Kara seperti biasa manasin orang kalo pengen tobat. Ia mencomot siomay dari plastik yang ia genggam.

Tiar pun nyeletuk juga, “Kamu gak lupa kan besok kita ada peer kesenian yang harus dikumpulkan?”

Eh, iya bener. Aku lupa ada peer kesenian yang harus kuselesaikan buat besok, dan aku belum mengerjakannya sama sekali…heeeeh, akhirnya kuketik beberapa huruf untuk  membalas ajakan kakak rohisku itu.

“Maaf kak, hari ini saya ndak bisa ikut untuk acara kajian rohis. Saya ada urusan yang harus diselesaikan sepulang sekolah.”

Sekali lagi, setan dalam diri ini menang.

*******

Jam pelajaran olahraga setelah istirahat itu adalah definisi dari kata gak asyik. Bayangin udah badan setengah bau, eh olahraga juga. Aku yakin semua teman sekelasku pasti juga mengeluh dengan pelajaran olahraga di tengah hari. Tapi ada yang aneh pagi setengah siang ini. Ada Ersa, Ersa versi cowok. Ia mengikuti kelas olahraga bersama kami. Dan anehnya lagi, celananya panjang. Sekolah kami memang seragam olahraganya pendek. Paling tidak selutut keatas dikit. Kecuali kami siswa perempuan dan yang berjilbab tentunya, semua siswa laki-laki memakai celana pendek itu.

“Cie…. duo Ersa sedang kumpul nih yeeeee… wakakakakaka!!!”, ledek Guntur, ketua kelas resek yang hobi banget ledekin aku sama Ersa versi cowok ini. Ia dan segerombolannya, sering mempermalukanku di depan Ersa. Mereka juga tahu kalo aku sangat memperhatikan Ersa. Yah, Ersa memperhatikan Ersa yang lain. Dan Ersa yang lain tidak memperhatikan Ersa.

Aku Cuma bisa diem, tapi dalam hati pengen nonjok. Tapi sebelum semua itu terlaksana, pak Setya—guru olehraga kami—menyuruh kami berbaris. Tatapannya jatuh padaku.. eh maksudku Ersa versi cowok.

“Kamu! Kenapa celanamu panjang?”, ujarnya dengan sedikit curiga.

Ersa berkata tenang sambil melirik ke celananya, “Ya..gapapa pak. Pengen aja.”

“Kamu tahu kan harusnya seragam sekolah kita celananya pendek~! Kenapa kamu pake celana panjang? Itu lihat warnanya bahkan gak sama~!”. Yap, emang bener. Seragam kami warna hijau, tapi celana panjang Ersa warna biru.

“Iya pak, tapi saya lebih nyaman pake celana panjang.”, wajahnya terlihat agak takut, tapi suaranya tenang sekali.

Pak Setya menghela napas panjang, “Kamu tahu ini bukan yang pertama kalinya kamu melanggar aturan seragam olahraga di sekolah kita. Jangan kira saya ndak memperhatikan kalo celana seragammu yang lain kamu sisingkan keatas kayak orang kebanjiran ya.. Sekarang, seperti biasa. Sebelum kamu bisa ikut ujian basket susulan, lari kamu harus pemanasan muter lapangan tujuh kali. Buat yang lainnya cukup tiga kali. Sekarang jugaaa~~~!!” Kami dengan sedikit tergesa segera ambil kaki seribu buat pemanasan.

Ersa mengangguk. Ia dengan kalemnya nglakuin hukuman itu seakan-akan itu sudah biasa ia lakukan. Apalagi tadi pak Setya bilang ‘bukan yang pertama kalinya’ dan ‘celana seragam disisingkan kayak orang kebanjiran’? maksudnya? Mungkin, ada sesuatu dari Ersa yang belum aku ketahui.

********

Seusai jam olahraga—yang langsung bikin temen-temen cewekku nyesel kenapa gak make sunblok tadi—aku masih saja merenungi kejadian Ersa. Cowok itu benar-benar menyita perhatianku, maksudku bukan perhatian yang seperti itu…

“Apa maksud perkataan pak Setya tadi yah?”, aku duduk setengah frustasi seusai meletakkan baju olahragaku yang barusan kulipat.

Teman-temanku, seperti biasa, nyolot, “Hayo.. ati-ati loh saaaaa..bisa suka kamu ntar ma dia. Haahhaah, Ersa jatuh cinta sama Ersa. Duo Ersa, duo aneh.. ya emang, orang aneh sukanya pasti sama yang se spesies gitu deeh… wahaahahahah”, Kara omongannya emang nyakitin banget. Asli. Tapi harus kuakui, Ersa cowok emang aneh. Aku jadi dia sih mending pake celana pendek, abisnya panas banget pake celana panjang. Udah pake celana panjang bikin panas, mana dapet hukuman lagi 4 putaran tambahan. Apalagi, itu kan bukan yang pertama kali. Duuh, otaknya dimana ya si Ersa cowok ini..

“Udah, kalo kamu penasaran, kamu samperin aja jam pelajaran olahraga kelas IPA 1, hari Jumat besok. Kan masih 3 hari lagi. Saranku sih gitu. Daripada kamu tanya temen-temennya lagi, malu-maluin lagi.”, Tiar emang baik amat. Betul juga sarannya. Kenapa gak terpikir buat tanya pak Setya aja? Hahahahah… aku pintar juga ternyata. Fufufu…

********

Dan benar, 3 hari kemudian kelas IPA 1 ada pelajarannya pak Setya. Untungnya jam pelajaran olahraganya bertepatan sebelum istirahat. Aku harus segera kesana biar gak ketinggalan menemui si-celana-panjang, hahaha.. julukan dari cewek-cewek di kelasku baru-baru ini.

Aku setengah berlari dan ternyata, ini bukan hari keberuntunganku. Anak-anak kelas IPA 1 sudah pada beranjak untuk ke kantin atau ganti baju. Aku hampir saja mengeluh dan balik ke kelas ketika melihat si-celana-banjir (kalo ini julukan dari Kara, yang lebih menyakitkan lagi) sedang berlari memutari lapangan (lagi). Well, aku malah bisa bertanya pada Ersa langsung tanpa harus malu dengan teman-teman sekelasnya!!! Ahay…. pucuk dicita ulam tiba.

Aku menghampiri pak Setya yang sedang duduk-duduk di pinggir lapangan sekolah sambil mengamati Ersa. Aku sok kenal dengan pak Setya dan duduk di sebelahnya.

Aku akan bertanya pada beliau hingga pak Setya sendiri menggumam padaku, “Kenapa ya sama anak itu?”

“Kenapa pak?”

“Sejak awal saya mengajar dia, dia sudah memakai celana panjang. Dan dari sejak awal pula saya memberi hukuman lari memutar lapangan selama 4 kali. Dan ini sudah hampir setahun dan ia tidak pernah kapok.”, sorot mata pak Setya terlihat iba. Setauku beliau ini guru yang teramat baik. Tapi, disiplin tingkat tinggi. Itu yang bikin orang ini terlihat galak.

Aku mencoba pada inti dan maksud kedatanganku kesini, “Bapak.. ndak bertanya alasannya?”

“Saya kira dia bakal gak make celana panjang lagi. Jadi saya gak pernah tanya, kamu penasaran juga ya? Haha, nama kamu kan sama kayak dia…”

Aku terhenyak. Pak Setya tahu? Ya iyalah, kemaren anak-anak sekelas heboh begitu.

“Mungkin bapak bisa tanyakan alasannya sekarang.”

Sebelum pak Setya bisa menjawab, Ersa-celana-banjir selesai berlari dan ia menghampiri kami dengan nafas terengah-engah, “Pak, saya sudah selesai. Apa saya bisa istirahat sekarang?”

Pak… plissss jangan boleh pergi dulu dong Ersanyaaaaa.. paaaakkk~~~!

“Hmmm.. ya, tapi kamu duduk sini dulu…”

Aku bisa merasakan sebelum Ersa duduk di sebelah pak Setya, ia melirik padaku. Pak Setya berada di tengah-tengah kami sekarang.

“Kamu.. kamu ndak bosan saya kasih hukuman terus?”, wow. Aku gak pernah dengar pak Setya berbicara begitu kebapakan seperti yang aku dengar barusan. Aku lihat beberapa anak  yang lalu lalang di sekitar kami tampak tak peduli. Aku jadi setengah tersadar, kami memang gak terlalu menarik untuk dilihat.

Ersa tersenyum simpul, “Endak kok pak. Selama saya bisa make celana panjang ini, lari berapapun putaran saya lakuin kok pak.”

“Tapi, kenapa kamu harus terus memakai celana panjang? Kamu kan tahu seragam olahraganya pendek. Apalagi kamu pakai yang ndak sama warnanya.”

“Iya…”, ucapku lirih. Aku harus ngerem perkataanku biar gak malu-maluin depan Ersa ini.

Ersa terdiam, “Kalo saya jadi kamu, saya pake celana pendek aja Sa.”, pak Setya berkata polos. Aku hampir saja mengatakan itu sebelumnya.

“Maaf pak, tapi kan saya risih pak…”, Ersa akhirnya bicara juga. Tapi ambigu banget.. maksudnya risih sama apa? Sama siapa?

“Risih kenapa?”

Dia diam. Well, setelah ini apa?

“Ayo, ndak usah malu. Apalagi disini ada kembaran kamu…”, pak Setya menggoda.

“Hha… maksud bapak?”

“Disini kan ada Ersa.”

“Saya Ersa pak.”, ucap si-celana-banjir polos. Duh, anak ini emang menyebalkan! Trus, maksud dia ngelirik aku tadi apa?

“Sudahlah, sekarang jelaskan alasanmu. Ayo, waktu istirahatmu udah ilang 10 menit.”

Ersa  menghela napas seakan dia sedang akan menjelaskan tanggal kiamat, atau mungkin karena dia juga malu padaku haha, “Bapak.. saya begini soalnya… bapak tahu aurat laki-laki itu pada bagian pusar sampai lutut kan?”

Pak Setya terdiam. Aku terdiam. Aku masih belum paham.

Pak Setya  kemudian berkata lirih, “Jadi, kamu make celana panjang karena kamu ingin aurat kamu tertutupi?”

“Saya kira bapak mengerti.”

Aku terdiam, setengah ternganga. Ersa bela-belain muteri lapangan 4kali setiap minggu agar auratnya tertutupi? Dia bahkan bukan anak rohis! Dan aku, aku bahkan berpikiran memakai celana panjang itu bikin panas.. astagfirullah.. aku merasakan seluruh wajahku panas, apalagi mataku. Bagaimana mungkin Ersa yang jarang ke Musholla bahkan sangat menerapkan agamanya daripada aku yang selalu mendapat ajakan kajian setiap sabtu…? Aku juga ingat kalo cowok rohis—biasa kau sebut ikhwan—bahkan tidak mengeluh apapun soal seragam yang jelas-jelas menampakkan auratnya itu.

“Ersa, mulai sekarang lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Kamu masih kelas sebelas kan? Jadi masih ada setahun waktu kamu disini. Kita lihat apakah sekolah mau mengubah seragam olahraga dan kamu gak perlu muteri lapangan 4kali mulai minggu depan.”, pak Setya menepuk pundak Ersa si-celana-ban.. eh si ikhwan sejati!

Ersa terlihat takjub. Aku bisa tahu perasaannya. Akhirnya ada juga yang bisa memahami prinsipnya. Kami bertiga berdiri. Pak Setya  memeluk pundak Ersa—maksudku, Ersa cowok—dan berkata, “…nih, sekarang kenalan sama kembaranmu. Bapak tinggal dulu ya. Assalamu’alaykum.”

Aku dan Ersa menjawab salamnya tergesa. Pak Setya membuat suasana semakin canggung. Tapi jujur, aku benar-benar ingin berteman dengannya.  Sangat ingin. Aku bahkan berpikir untuk mengajaknya masuk rohis.

“Kamu… kenapa gak ikut rohis?”, ucapku berusaha tak terdengar serak.

Dia mengedikkan bahu, “Ya.. ndak papa. Emangnya kalo pengen jadi alim harus ikut rohis?”

Aku tersenyum masam. Ada bagian kecil di hatiku yang perih mendengarnya. Kalo dia alim tapi gak ikut rohis, maka aku kebalikannya.

“Sabtu ada kajian rohis. Kamu mau ikut?”, aku  tersenyum tanpa berusaha menatap wajahnya. Sesuatu yang sudah jarang kulakukan. Aku baru sadar kalo dari tadi Ersa tidak menatapku sedikitpun.

“Boleh. Jam berapa?”

“Pulang sekolah. Kamu nanti langsung ke masjid aja. Disitu biasanya cowok rohis kumpul.”

Ersa mengernyit, “Bukannya..istilahnya..”

“Ikhwan?”

Aku dan Ersa tertawa. Ersa dan Ersa tertawa. Ersa yang menyadarkan Ersa yang lain. Maksudku, Allah memberikan Ersa untukku. Untuk Ersa.

“Ersa.”, ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Aku tahu ia hanya menggoda. Aku menangkupkan tangan, menolak uluran tangannya secara halus. Dia tertawa kecil.

“Ersa.”

“Eh, jadi….”

“Kamu kira pak Setya tadi Cuma ngomong gak jelas apa?”

“Brarti yang dimaksud kembaran itu? Hahahahhahahahahah….”

Aku tertawa lagi. Well, Allah memang menghadirkan hidayah dari arah yang gak penah kuduga. Bukan begitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s