Tentang Haidh dan Nifas

Assalamu’alaykum Warahmatullah..

postingan ini akan ‘sedikit’ cerita tentang kebiasaan kaum hawa. Yup, apalagi kalo bukan soal Haidh dan Nifas. Semoga bermanfaat ^^

Haid adalah darah yang dikeluarkan oleh rahim saat seorang wanita mencapai usai baligh. Rata-rata lama haidh adalah 6-7 hari. Paling sedikit masa keluarnya darah haidh adalah sehari semalam dan paling lama adalah 15 hari.

Dalam masalah haidh, wanita dapat dibagi menjadi 3 kelompok:

  1. Wanita pemula, wanita yang melihat darah haidh untuk pertama kalinya. Katentuan hukumnya, bahwa ketika ia melhat darah itu, hendaknya ua meninggalkan shalat, puasa, dan bersetubuh, dan menunggu masa suci. Jika ia melihat haidhnya telah berlangsung sehari semalam atau lebih lama dari itu hingga 15 hari, hendaklah ia mandi dan mengerjakan shalat. Tetapi jika darahnya itu masih terus menerus keluar setelah berlangsung 15 hari, hendaklah ia menghukumi darah itu sebagai darah istihadhah.
  2. Wanita yang sudah terbiasa, yaitu wanita yang telah mngetahui hari-hari tertentu dari masa haidhnya dalam satu bulan. Ketentuan hukumnya; bahwa ia diwajibkan meninggalkan shalat, puasa, dan bersetubuh pada hari-hari dimana haidhanya biasa berlangsung. Ketika ia melihat darahnya itu berwarna kekuning-kuningan atau kehitam-hitaman setalah masa berakhirnya haidhnya biasa berlangsung, hendaklah ia tidak perlu memperhatikannya, berdasarkan keterangan Ummu Athiyah, “Kami tidak mengangap darah yang berwarna kekuning-kuningan atau kehitam-hitaman setelah masa suci sebagai sesuatu (yang perlu diperhatikan).” [HR. Al Bukhari:326]. Tetapi jika ditengah-tengah kebiasaan masa berlangsung haidhnya; jika ia melhat darahnya tampak berwarna kekuning-kuningan atau kehitam-hitaman, maka darah tersebut tetap dihukumi darah haidh, sehingga ia tidak perlu mandi, tidak wajib shalat, tidak wajib puasa.
  3. wanita yang istihadhah, yaitu wanita yang darahnya tidak berhenti atau keluar terus menerus keluar setelah berakhir masa haidhnya. Ketentuan hukumnya, jika ia menganggap hari-hari sebelumterjadi istihadhah sebagai hari-hari haidhnya dan merasa yakin bahwa hari-hari tersebut adalah hari-hari haidhnya , maka hendaklah ia meninggalkan shalat selama amasa haidhnya. Kemudian setelah masa haidhnya itu berakhir, hendaklah ia mandi, mengerjkaan shalat, berpuasa serta boleh bersetubuh. Jika masa haidhnya tidak teratur atau teratur hanya saja ia lupa masa berlangsungnya atau jumlah harinya dan ia dapat membedakan sebagian dari warna darahnya; terkadang darahnya hitam serta terkadang berwarna merah. Selama darah hitam keluar, hendaklah ia berdiam diri, lalu setelah darah hitam berhenti, hendaklah ia mandi dan mengerjakan shalat; selama keluarnya itu tidak lebih dari 15 hari.

Jika darahnya tidak dapat dibedakan antara warna hitam dan warna lainnya, hendaklah ia berdiam diri pada tiap-tiap bulan menurut ukuran kebanyakan masa haidh, yaitu 6 atau 7 hari. Lalu setelah itu mandi dan menunaikan shalat.

Bagi wanita yang istihadhah, bahwa selama masa istihadhahnya, hendalh ia berwudhu dalam tiap-tiap shalat dan memakai cawat, lalu menunaikan shalat, meskipun darah terus menerus keluar, dan hendaklah ia tidak bersetubuh, kecuali dalam keadaan darurat.

Hadits ummu salamah, “Suatu ketika ia meminta fatwa kepada Rasulullah SAW mengenai seorang wanita yang terus menerus mengeluarkan darah?” Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah ia memperhatikan jumlah malam serta hari dimana ia biasa haidh dalam satu bulan sebelum ia mengalami kejadian yang dialaminya, kemudian ia meninggalkan shalat menurut ukuran jumlah hari kebiasaan haidhnya dalam satu bulan. Jika hari-hari haidhnya telah berakhir, hendaklah mandi serta memakai cawat (penyumpal darah), lalu menunaikan shalat. “ [HR. Abu Daud 274 serta An Nasai 208 dengan sanad baik].

Hadits Fatimah binti Abi Hubaisy, “Suatu ketika ia istihadhah, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “JIka darah itu dalah darah haidh, maka ia diketahui berwarna hitam. Jika keadaannya seperti itu, hendaklah kamu menahn diri dari shalat. Tetapi jika warnanya adalah warna lain, hendaklah kamu berwudhu – setelah mandi – shalat, karena darah itu adalah penyakit.”

Hadits Hamnah binti Jahsy, seraya berkata, “Dahulu aku pernah menderita Istihadhah yang parah, sehingga darah yang keluar cukup banyak, sehingga aku datang kepada Nabi SAW untuk meminta fatwa, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya hal itu adalah gangguan setan, maka hitunglah masa haidhmu sebanyak 6 atau 7 hari, kemudian mandilah. Jika kamu telah bersuci, maka shalatlah selama 24 atau 23 hari. Berpuasalah dan shalatlah selama 23 atau 24 hari. Berpuasalah dan shalatlah, niscaya hal tiu berpahal bagimu. Perbuatlah hal itu pada setiap bulan sebagaimana layaknya kaum wanita berhaidh.” (HR. At Tirmidzi [128])

 

Nifas

Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan setelah melahirkan dan tidak ada batas minimalnya. Sehingga kapan saja wanita yang sedang nifas melihat darahnya telah berhenti, hendaklah ia mandi dan menunaikan shalat, kecuali bersetubuh, di mana perbuatan itu merupakan perbuatan yang dimakruhkan bagi wanita karena alas an kebersihannya sebelum masa nifasnya genap 40 hari serta dikhawatirkan menimbulkan rasa sakit pda wanita. Sedangkan batas maksimalnya adalah 40 hari, berdasarkan keterangan yang dituturkan oleh Ummu Salamah Ra, seraya berkata, “Para wanita yang sedang nifas berdiam diri selama 40 hari” [Abu Dawud: 311], Ia berkata, “Suatu saat aku bertanya keada Rasulullah SAW, “Berapa lamakah wanita yang habis melahirkan harus berdiam diri?” beliau menjawab, “40 hari, kecuali jika ia melihat darah nifasnya telah berhenti sebelum itu.” (HR. At Tirmidzi). Menurut hadits ini, bahwa jika wanita yang sedang nifas telah menjalani masa nifasnyaselama 40 hari, hendaklah ia mandi, menunaikan shalat serta berpuasa, meskipun belum suci, hanya saja wanita yang belum suci dihukumi sebagaimana layaknya wanita yang istihadhah.

 

Hal-hal yang dilarang saat haidh dan nifas

Adapun hal-hal yang dilarang saat haidh dan nifas adalah sebagai berikut:

1.bersetubuh, berdasarkan firman Allah SWT,

“Dan Janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (mandi).” (QS. Al Baqarah: 222)

2. Shalat dan puasa, hanya saja puasa wajib diQadha (diganti) setelah suci, sedang shalat tidak wajib diQadha, berdasarkan sabda Rasulullah SAW.

Wallahu’alam bishawab. InsyaAllah kalo ada waktu, admin akan bahas lebih dalam lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s