Menulis, Mengukir Peradaban

Assalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh🙂

Alhamdulillah setelah sekian lama saya ndak mengisi blog penjalin ukhuwah ini, akhirnya saya bisa ngisi lagi…😀 pasti udah banyak yang kangen🙂 #dilempari tomat

Kali ini saya akan memposting materi perkenalan dari Pengkajian Antar Sekolah SKI SMANISDA 2012 kemareeen🙂 bagi yang gak dateng kemaren.. materi ini mungkin seperti kayak..ringkasannya gitudeh. cekidot ! semoga bermanfaat !

Menulis, Mengukir Peradaban

Oleh : Rafif Amir Ahnaf*

penulis, Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Sidoarjo


“Tuan, sebutir pelurumu yang nanti menembus kepalaku hanya akan membunuhku. Tapi tulisan dan buah pikiranku akan menembus ratusan, ribuan, jutaan kepala orang.”

Kata-kata itu bukan keluar dari lisan seorang sembarangan, tapi terucap dari lisan agung seorang ulama besar dengan karya fenomenalnya, Fi Zhilalil Quran. Sayyid Qutb, begitu ia disebut. Kata-kata itu sendiri lahir saat ia menghadapi detik-detik terakhir eksekusi mati.

Adalah Sinta Yudisia, seorang penulis Forum Lingkar Pena (FLP) Jatim, yang menjadikan kalimat ‘sakti’ Sayyid Qutb itu sebagai motivasi bagi perjalanan dakwah penanya. Lebih dari empat puluh buku telah ia tulis dalam waktu singkat, seakan mengatakan bahwa menulis adalah kebutuhan tak terelakkan sepanjang nafas kehidupan.

Sejatinya, bukan hanya Sinta, bukan hanya Helvy Tiana Rosa, bukan hanya Asma Nadia yang berhak dan layak untuk mewarisi generasi para dai terdahulu, melestarikan dan melaksanakan wasiat tersirat Sayyid Qutb di akhir hayatnya. Semua orang punya hak, layak dan bisa melakukannya! Apalagi yang mengaku sebagai du’at qobla syai’in.  Tidak hanya Sayyid Qutb, bahkan seorang sahabat Nabi yang sering dijuluki gudang ilmu, Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” Kali ini, kalimat sakti itu menjadi bahan bakar Hernowo untuk merangkai hidup dengan jalinan kata-kata. Imam Bukhori dan Imam Muslim dengan Shahihnya yang menjadi rujukan utama kitab-kitab hadist. Berikutnya muncul nama Imam Ghazali dengan karyanya yang tak lekang zaman, Ihya’ Ulumuddin. Hasan Al-Banna dengan Risalah Ta’alim dan puluhan kitab referensi dakwah pergerakan lainnya. Sa’id Hawa, Fathi yakan, Aidh Al-Qarni, Ustadz Rahmat Abdullah, dan ulama mutakhirrin lainnya.

Sebagian yang saya sebutkan mungkin ada yang sudah meninggal, tapi ia meninggal dengan meninggalkan jejak abadi yang bisa dibaca bahkan oleh para cucu dan generasi kesekian dari mereka. Tulisan-tulisan itu akan menjadi cahaya, menjadi pahala yang senantiasa mengalir, tak pernah habis sebelum kiamat datang.

Peradaban Islam, kata Abdullah Azzam, diukir oleh dua hal ; hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada. Keduanya bersinergi mengguncang dunia, memecah simpul-simpul zalim yang mengikat kejayaan Islam sekian lama. Jika tak ada ruang untuk memilih diantara keduanya, maka melaksanakan keduanya adalah puncak kemuliaan. Namun, memilih salah satu di antara dua juga bukanlah kesalahan. Seperti Imam Ahmad yang memilih syahid ditengah penguasa mu’takzilah dan Imam Syafi’i yang memilih meninggalkan negeri Bagdad menuju Mesir demi sebuah tujuan pelestarian ilmu. Dari tangannyalah kemudian lahir karya-karya besar yang menyejarah.

Saya percaya, hakikatnya semua bisa menulis. Karena menulis tak butuh bakat, ia hanya butuh tekad dan kemauan. Menulis hanyalah pekerjaan ‘mengikat’ ilmu yang didapat dari penggalan kehidupan, membaca peristiwa atau mengungkap makna dari kata-kata. Menulis semudah berbicara, karena ia menangkap gerak jiwa tanpa menyertakann lisan. Bedanya, dakwah dengan lisan akan segera selesai begitu ceramah atau taujih usai. Namun, tulisan dapat tetap bisa dibaca berulangkali kapan dan dimanapun.

Saya teringat beberapa hal yang sering diungkapkan penulis dalam beberapa kesempatan. “Saya merasa ada yang menggerakkan tangan saya ketika menulis. Saya meminjam tanganNya untuk menulis.” Maka tak heran tulisan-tulisan itu menjadi cahaya dan para penulisnya adalah para penebar cahaya. Allah menolong mereka untuk menghasilkan karya yang luar biasa, karya yang menggugah dan mengubah hidup. Ada gerak-gerak ghaib yang turut menggerakkan pena para penulis untuk sampai pada cahaya; kata-kata becahaya. (*)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s