UN jadi Syarat Masuk PTN?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan, mulai tahun ini nilai akhir ujian nasional (UN) akan dijadikan evaluasi akhir penerimaan calon mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri (PTN). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh mengatakan, kebijakan ini diterapkan sebagai bagian dari upaya menyatukan sistem. Bagaimana tanggapan sekolah?

Kompas meminta tanggapan dari dua SMA di Jakarta dan Depok, Jawa Barat, yaitu SMA 24 Jakarta dan SMA 1 Depok. Humas sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMA 24 Jakarta, Wirda mengatakan, hingga saat ini, pihaknya belum menerima informasi mengenai akan dijadikannya nilai UN sebagai salah satu instrumen lolos tidaknya di sebuah PTN.

“Sampai sekarang yang kami tahu, informasi tersebut masih berupa isu. Saya justru baru tahu sekarang, karena dari tahun-tahun sebelumnya, informasi tersebut sudah ada dan masih berupa wacana saja,” ujarnya, ketika dijumpai pekan lalu.

Menurutnya, jika memang akan diterapkan, sebaiknya dilakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, melalui Musyawarah Kepala Sekolah (MKS). Wirda berpendapat, dengan sosialisasi yang matang, maka sekolah bisa mempersiapkan para siswa dan tidak ada “kekagetan” di kalangan peserta didik. Ia mengkhawatirkan, para siswa akan menjadi tidak percaya diri dan menambah beban baru bagi mereka.

“Sudut pandangnya pun berbeda. Kalau menjadi syarat untuk masuk PTN berarti ada saringan yang tidak tersaring, sedangkan kami berharap semua murid lulus,” tambahnya.

Ia menambahkan, informasi mengenai kebijakan ini sebaiknya diberitahukan jauh-jauh hari, bahkan sejak siswa memasuki bangku SMA. “Nilai UN yang sesuai dengan SKBM (Standar Kelulusan Belajar Minimal) hanya untuk kelulusan, tentu berbeda dengan standar masuk universitas,” kata Wirda.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 1 Depok, Supyana mengatakan, hingga saat ini belum ada informasi yang diterima pihak sekolah terkait dijadikannya UN sebagai syarat masuk PTN.

“Kalau nanti dapat info itu dan ternyata benar, menurut saya hal itu sangat riskan. Masih banyak kelemahannya,” kata dia, saat ditemui terpisah.

“Tidak menggambarkan prestasi anak yang sesungguhnya. Baiknya, untuk nilai UN tidak dijadikan syarat. Nilai UN seharusnya berbeda dengan ujian  masuk PTN. Sehingga kalau dibedakan, persaingan antar anak dan sekolah lebih jelas. Dari prestasinya pun lebih jelas terlihat perbedaanya,” tambah Supyana.

Sebagai guru, ia menyatakan keberatan jika kebijakan itu diterapkan. Akan tetapi, jika sudah menjadi sebuah keputusan, maka sebagai pelaksana akan menerimanya.

“Sebagai guru saya tidak bisa apa-apa. Saya hanya nurut perintah dari atasan. Kalau itu benar, ya itu mesti dilakukuan. Kemudian kita baru bisa memberi bekal dari segi mental kepada siswa,” katanya.

Kompas | Fimadani

catatan : buat mbak2 dan mas2 DS yang mau UN, semangat ya~! Jangan goyah dan terus percaya bahwa Allah berikan kemudahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s