Kepekaan dalam Dakwah

Alhamdulillah, penulis mendapat sebuah catatan refleksi dari blog milik salah seorang hamasda… apabila mungkin kalian mau menambahkan monggo silahkan komen dibawah yaaa…. cekidooott ^^

“Belajarlah kamu hingga ke negeri China”

 

Kata orang, yang namanya perjuangan tidaklah selalu sesuai dengan harapan kita. Banyak sekali onak, duri, jalan berlubang, ataupun penghalang yang siap menghadang perjuangan kita. Begitu pula dengan yang namanya dakwah, ia adalah wujud lain dari perjuangan. Berjuang untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi

Dalam berdakwah, tidak hanya diperlukan Iman, semangat, ataupun juga keikhlasan. Memang hal tersebut menjadi faktor penting dan syarat wajib dalam berdakwah. Bagaimana mau berdakwah, kalau bekal atau materinya nggak ada? Ada satu hal penting lagi yang sebenarnya menjadi pelengkap ketiga butir di atas. Hal tersebut adalah kepekaan

Seringkali kita mendengar kata kepekaan, namun apakah kita sudah benar-benar peka dalam praktek di lapangan. Kelihatannya hal tersebut perlu kita pertanyakan dalam diri kita pribadi. Ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam menunjang kepekaan tersebut.

Pertama, Kita harus menyesuaikan kapasitas berpikir kita dengan kapasitas berpikir objek dakwah. Kalau misalkan objek dakwah kita adalah enterpreneur yang bergerak di bidang kuliner, ya nggak usah mikirin dioda, transistor, ataupun op Amp (heheheh, Elka banget ni). Cobalah pikirkan hal-hal yang berbau kuliner juga, misalkan bebek goreng, soto ayam, ataupun cap cay (ehmmm, jadi lapar nih).

Kedua, sebenarnya terkait juga dengan yang pertama, yaitu usahakan pembicaraan kita atau pilihan kata yang digunakan sesuai dengan yang dimengerti oleh objek dakwah kita. Terkait dengan penjual makanan, ya gak usah memunculkan kata-kata gaul kayak “by the way”, lebay, planning, manage, konklusi, deduksi, coding (keknya mahasiswa banget nih kata-katanya) ataupun yang lain.

Yang ketiga, ni paling penting juga, Cobalah redam ego kita. Tanpa kita sadari, terkadang semangat dan jiwa muda kita inginnya sesuatu itu serba cepat, efektif dan ringkas. Akhirnya kita mengabaikan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan ataupun tata krama di daerah tersebut, misalkan: nggak bersilaturrahmi dulu ke ketua RT/RW, nggak minta izin ke sesepuh desa tersebut, atau pas penyelenggaraan acara nggak memberi space sambutan buat mereka, ataupun hal yg lain juga. Alhasil usaha dakwah kita yang selanjutnya bakalan “seret” dan kurang mendapatkan dukungan.

Ya, mungkin itulah yang bisa saya share dan bagi pada kesempatan kali ini. Selamat mencoba.

.Sebuah Catatan Refleksi dari FD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s