SALAH NIAT

Tet… tet… tet….

Huh… akhirnya bel pulang yang kunanti berbunyi juga. Langsung saja kututup buku diktat  fisika yang ada di hadapanku. Pusing rasanya aku melihatnya. Tak lama kemudian Bu Ria, guru fisikaku, menutup pelajaran dan berlalu dari hadapan kami. Sembari aku membereskan buku dan memasukkannya ke dalam tas, tiba-tiba Dewi menghampiriku.

“Far, nggak lupa kan habis ini ada acara perkenalan Rohis SMA?” tanyanya padaku.

“Iya, aku ingat kok. Tapi aku ikut bentar aja ya,” jawabku agak malas.

Dewi langsung menggandeng tangan kananku dan langsung mengajakku menuju masjid sekolah. Huh… sebenarnya aku terpaksa ikut acara rohis atau kerohanian Islam semacam ini. Kalau bukan karena disuruh kakakku yang paling cerewet, mbak Firda, aku nggak bakalan ikut kegiatan rohis. Gara-gara disuruh dia juga, aku terpaksa pakai jilbab di SMA ini. Padahal dulu waktu SMP aku terkenal jadi trendsetter mode baju di antara teman-temanku.

Dewi adalah adik teman SMA kakakku. Dulu, kakakku dan kakaknya Dewi juga ikut rohis di SMA ini. Sekarang Mbak Firda kuliah di Bogor dan kakaknya Dewi kuliah di Jakarta. Mbak Firda rajin menelepon Dewi agar mengajakku ikut kegiatan rohis.

“Wi, acaranya sampai jam berapa nanti?” tanyaku pada Dewi sambil melihat jam tangan.

“Ah, cuma bentar kok. Paling nggak sampai jam tiga sore. Emang mau kemana sih?”

“Malam ini kan malam minggu. Biasa, mau nonton,” jawabku. Dewi yang mendengar jawabanku hanya tersenyum.

Beberapa menit kemudian beranda masjid sudah dipenuhi oleh beberapa siswa baru kelas satu sepertiku. Peserta putra dan putri dipisah dengan sebuah hijab. Tak lama kemudian acara dibuka oleh salah seorang kakak kelas tiga. Uh… acaranya monoton. Bete banget. Habis pembukaan, tilawah Al-Quran, trus sambutan-sambutan. Nggak asyik deh… ngantuk rasanya.

“Far, kok diam aja sih?” tanya Dewi sambil mencubit tanganku.

“Emang acaranya gini aja ya? Aduh, aku pulang aja ya,” kataku pada Dewi sambil menguap.

“Eh, habis sambutan yang terakhir ini ada acara makan-makan lho,” rayunya.

“Nggak penting. Aku kan bisa makan di rumah.” Sejenak kami berdua terdiam. Tak lama kemudian terdengar suara pembawa acara mempersilahkan Ketua Pembina Rohis untuk memberikan sambutan yang terakhir. Beberapa detik kemudian, majulah seorang cowok di hadapan kami semua. Sejenak aku terpana dan terpesona melihatnya. Mataku yang semula tinggal lima watt, kini terbuka lebar. Untung saja mataku nggak copot. Wah… dia keren banget. Ganteng dan cool. Mantan pacarku aja nggak ada apa-apanya dibanding dengannya.

Setelah salam, dia memperkenalkan dirinya. Namanya Tommy Saputra. Dia sudah lulus sebagai Dokter Muda di salah satu PTN favorit di Surabaya. Dan sekarang sedang melanjutkan kuliah profesi dokternya. Orangnya sangat sederhana. Berambut cepak, berkaca mata, dan berjenggot tipis. Dia memakai baju koko warna putih dan celana panjang hitam. Perawakannya tinggi tegap dan kulitnya putih bersih. Pokoknya mirip artis Tommy Kurniawan deh.

Setelah mas Tommy Kurniawan, eh… Tommy Saputra memberi sambutan, acara dilanjutkan dengan acara makan-makan dan hiburan musik nasyid. Tapi entah kenapa pikiranku masih tertuju ke mas ganteng itu.

“Wi, mas Tommy keren banget ya,” kataku pada Dewi waktu makan bersama.

“Huh… dasar. Giliran ada yang ganteng, jadi semangat,” ledek Dewi padaku.

“Andai saja…”

“Andai apa?”

“Andai mas Tommy jadi pacarku. Sudah ganteng, pinter, dokter lagi.”

“Hus… bisa-bisa aja kamu, Far. Cowok kayak mas Tommy nggak mungkin pacaran.”

“Maksudnya?”

“Biasanya, cowok kayak mas Tommy atau yang biasa ikut Rohis itu disebut ikhwan. Kalau perempuan disebut akhwat. Mereka nikah dulu baru pacaran.”

“Kok aneh sih. Ah, tapi biarin aja. Bisa saja kan mas Tommy berubah pikiran. Kalo gitu, aku ikut Rohis ya, biar bisa ketemu mas Tommy terus. He.. he…”

“Huh, dasar…” pungkas Dewi sambil geleng-geleng kepala.

Setelah selesai, kami berdua langsung pulang. Saat menunggu jemputan mobil di depan halte sekolah, lewat seorang cowok menaiki sepeda motor bebek hitam berhelm biru di hadapanku. Tak salah lagi, dia si ganteng mas Tommy. Mas Tommy… oh mas Tommy.

***

        “Wi, nanti acara Rohisnya jam berapa?” tanyaku menggebu-gebu pada Dewi saat istirahat.

“Tumben semangat,” Dewi mengejekku.

“Iya dong, kan nanti bisa ketemu mas Tommy,” kataku dengan hati berbunga-bunga.

“Farah, mulai hari ini kan acaranya kajian rutin setiap Sabtu sepulang sekolah. Jadi tempatnya pasti terpisah antara ikhwan dan akhwat meskipun dalam satu masjid,” jelas Dewi panjang lebar kali tinggi.

“Tapi kalau tiap Sabtu mas Tommy kan pasti ke sini ngisi kajian. Kan bisa ngintip dikit-dikit.”

“Astaghfirullah… terserah kamu lah. Tapi niatmu ikut rohis jangan hanya karena mas Tommy. Tapi karena Allah.” Dewi tampak kesal dan geram padaku.

“Iya bu Ustadzah,” jawabku sambil nyengir.  Tak lama kemudian bel masuk berbunyi dan kamipun masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran.

Sepulang sekolah, aku dan Dewi langsung menuju ke masjid untuk ikut kajian rutin rohis. Setelah shalat Dhuhur, kajian pun dimulai. Di bagian akhwat, ada tiga kelompok kecil dan seorang pembina kajian yang biasa dipanggil mentor. Di kelompokku ada sepuluh orang peserta termasuk aku dan Dewi. Di sekelilingku ada anak-anak kelas satu baru dari kelas lainnya yang belum aku kenal semua. Maklum, kami masih sebulan ini masuk SMA.

Mentor kelompokku bernama Mbak Ifa. Orangnya cantik, anggun, dan murah senyum. Modelnya sih kayak Mbak Firda. Jilbabnya panjang, berbaju gamis, dan pakai kaos kaki. Dia sarjana ekonomi dan saat ini bekerja sebagai guru SMP di salah satu sekolah swasta.

Kajian kali ini membahas tentang niat. Setelah perkenalan dengan teman sekelompok, Mbak Ifa langsung menyampaikan materi. Intinya, semua apa yang kita lakukan tergantung dari niatnya. Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Rasanya aku jadi tersindir. Niatku ikut rohis kan biar bisa dekat sama mas Tommy. Kalau bukan karena dia, aku nggak bakalan ikut acara rohis. Tapi nggak apalah. Kata pepatah, cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan.

Selesai kajian, aku langsung pulang seperti biasa. Tapi hari ini, aku agak kecewa karena tidak melihat  mas Tommy sama sekali. Padahal hari Sabtu kan hari yang paling kutunggu. Huh…. Aku berjalan gontai di halte depan sekolah untuk menunggu Pak Diman menjemputku.

Sesampainya di halte, tak sengaja aku melihat seorang cowok duduk di sebuah warung tepat di sebelah halte. Dia memakai jaket biru dan bercelana abu-abu. Ya… tak salah lagi, dia mas Tommy. Hatiku tiba-tiba berdebar kencang. Dag… dig… dug…. Kulihat dia sedang membeli minuman di warung itu dan ngobrol dengan penjualnya. Dalam hati aku berdoa agar Pak Diman agak terlambat menjemputku biar aku puas ngeliatin mas Tommy meskipun cuma curi-curi pandang. Tapi tiba-tiba dia menuju ke arahku dan menghampiriku.

“Maaf dhek, bisa pinjam bolpoin? Isi bolpoin saya habis,”  kata mas Tommy padaku.

“Eh… iya, Mas,” jawabku agak grogi. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil bolpoin yang ada di dalam kotak pensilku dan langsung memberikan padanya.

“Sebentar ya.” Mas Tommy lantas menghilang dari hadapanku dan kembali lagi ke warung itu. Dia menulis sesuatu di secarik kertas kecil dan memberikannya ke bapak pemilik warung. Setelah itu dia kembali lagi ke arahku.

“Terima kasih ya, Dhek. Kok belum pulang?” tanyanya.

“Iya, habis ikut kajiannya rohis,” jawabku malu-malu kucing.

“O… ikut rohis juga ya. Ya sudah, terima kasih ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.” Mas Tommy langsung berlalu dari hadapanku dan menaiki sepeda motornya yang diparkir di sebelah warung. Saat lewat di depanku, tak lupa dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

 Ah… diriku serasa melayang di udara. Tak disangka aku bisa bertemu dengannya di sini. Mungkin jodoh kali ya. He… he…. Bolpoin yang habis dipinjamnya masih kupegang dan kuamati sambil senyum-senyum sendiri. Seandainya bisa, ingin rasanya aku laminating bolpoinku itu yang habis dipegang Mas Tommy. Selain itu, aku senang dia bisa tahu kalau aku ikut rohis SMA. Yesss…! Ucapku pelan sambil mengepalkan tangan.

Tin… tin… tin…. Bunyi klakson mobil Xeniaku membuyarkan lamunanku. Pak Diman yang setia menjemputku setiap hari ke sekolah memberi isyarat agar aku langsung masuk mobil.

Sejak peristiwa tersebut, aku selalu tersenyum sendiri  jika memakai bolpoin hitamku itu sambil  mengingat kejadian Sabtu sore di depan halte. Sesekali aku tertawa kecil. Dewi yang biasanya memperhatikanku saat menulis di sekolah sering keheranan dan merasa aneh dengan diriku. Memang benar kata orang. Cinta membuat orang mabuk kepayang.

***

Tak terasa dua bulan telah berlalu sejak aku pertama kali ikut kegiatan rohis. Dalam dua bulan ini aku tidak pernah absen ikut kajian pekanan setiap hari Sabtu. Apalagi tujuanku kalau bukan untuk mas Tommy. Dengan mengikuti kegiatan Rohis, aku jadi tahu agenda apa saja yang akan diadakan. Jadi, itu adalah kesempatanku untuk bertemu lagi sama mas Tommy.

Selama dua bulan ini, diam-diam aku sudah mengetahui segala sesuatu tentang mas Tommy. Mulai dari nomor HP sampai alamat rumah. Tentunya tidak dari dia langsung, tetapi dari sumber yang terpercaya yakni teman cowok sekelasku yang juga ikut rohis. Aku minta info tentang mas Tommy dengan alasan ada saudaraku yang ingin minta informasi tentang jurusan Kedokteran dimana mas Tommy kuliah. Meskipun aku sudah tahu nomer HP mas Tommy, aku masih belum berani untuk menghubunginya. Tapi tak hanya itu saja. Aku juga punya fotonya mas Tommy lho. Aku berhasil mengambil gambarnya waktu dia  lewat di depan kelasku saat mau ke masjid. Untungnya aku selalu tahu waktu mas Tommy lewat karena kelasku dekat dengan masjid.

Seperti biasa, hari Sabtu adalah hari yang paling kutunggu. Apalagi kalau bukan mau bertemu pujaan hatiku.

“Wi, ayo cepat ke masjid!”  ajakku pada Dewi tak sabar seusai bel pulang sekolah.

“Kok buru-buru amat sih!” ujar Dewi heran.

“Iya dong,” jawabku lantang. Selama ini Dewi tidak tahu kalau aku cinta mati sama mas Tommy sampai mencari info tentangnya. Sepengetahuan dia, aku hanya suka biasa. Tapi padahal lebih dari itu dan selama ini aku pendam sendiri. Kalau dia tahu, pasti aku diceramahin. Menurutku, mas Tommy adalah laki-laki yang sempurna. He’s someone special in my life.

Di masjid, mbak Ifa sudah datang dan siap untuk menyampaikan materinya. Kajian pun dibuka seperti biasa. Eits.., tapi setelah itu mbak Ifa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Dhek, saya minta do’a restunya ya,” ucap mbak Ifa lirih.

“Wah, mbak Ifa mau nikah ya? Sama siapa, Mbak?” tanya Nisa yang duduk di sebelahku. Aku pun ikut tersenyum dan tiba-tiba terlintas di benakku jika suatu saat nanti aku menikah dengan mas Tommy. Wah… senangnya.

“Iya dhek, insyaAllah mbak akan nikah dua minggu lagi. Ini undangannya. Jangan lupa datang ya!” Mbak Ifa lantas membagikan undangannya kepada kami satu persatu.

Dengan semangat aku langsung membuka undangan berwarna kuning yang ada di tanganku. Perlahan aku membaca nama kedua mempelai. Kutemukan nama panjang mbak Ifa, Latifah Khoirunnisa, S.E. Dan nama calon pengantin prianya… dr. Tommy Saputra. Iya benar… dia mas Tommy. Seketika itu juga kepalaku serasa berputar. Badanku langsung lemas. Wajahku tertunduk lesu. Tiba-tiba sekelilingku jadi gelap. Hanya suara teriakan teman-teman memanggil namaku yang aku dengar. Dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.

***

Dua minggu kemudian….

Gara-gara peristiwa pingsan itu, mbak Ifa tahu jika aku menyukai mas Tommy dari cerita Dewi. Duh… malunya aku. Untungnya, mbak Ifa tidak memperbesar masalah ini dan berusaha menutupi kepada temanku yang lain bahwa aku pingsan karena kecapekan biasa.

Alhamdulillah… mbak Ifa sangat bijaksana. Setelah peristiwa itu, mbak Ifa mengajakku bicara empat mata dan memberikan banyak nasihat padaku dengan cara yang lembut. Dia memberiku nasihat tentang arti sebuah niat dalam beramal dan keikhlasan. Termasuk cara menjaga hati dari lawan jenis agar cinta kita padanya tidak melebihi cinta kita pada Allah. Subhanallah… aku merasa mbak Ifa seperti kakakku sendiri. Tidak hanya itu saja, mbak Firda yang kuliah nun jauh di sana ternyata juga tahu tentang peristiwa tersebut. Tapi mbak Firda malah ngetawain aku. Huh… dasar.

Di hari pernikahan mbak Ifa dan mas Tommy, aku datang bersama teman-teman rohisku. Aku melihat mbak Ifa memakai gaun kebaya warna putih dengan kerudung menjuntai panjang, duduk bersebelahan dengan mas Tommy yang memakai baju jas hitam dan berdasi serta memakai peci. Mereka berdua masih tampak malu-malu. Menurut cerita, mereka langsung menikah dua bulan kemudian setelah perkenalan atau ta’aruf.

Sejak peristiwa itu, aku berusaha sekuat mungkin untuk melupakan bayangan mas Tommy dari ingatanku. Aku mencoba ikhlas dengan semua yang terjadi. Aku sadar bahwa selama ini aku salah niat dalam melakukan sesuatu. Memang benar, saat kita meniatkan sesuatu karena Allah, maka kita tidak akan kecewa karena semua yang kita lakukan hanya untuk-Nya. Namun jika niat kita untuk sesuatu yang lain, kita hanya akan mendapatkan hal itu dan suatu ketika akan kecewa jika tidak mendapatkannya.

Ya Allah, mulai saat ini aku akan berusaha untuk memperbaiki diri. Setelah ini, aku akan tetap mengikuti kegiatan rohis karena Allah. Bukan karena mas Tommy atau yang lain. Aku sadar, mungkin inilah jalan yang diberikan Allah agar aku mendapatkan hidayah dari-Nya. Dan yang terakhir, aku yakin jika suatu saat nanti Allah akan mempertemukan aku dengan seseorang terbaik pilihan-Nya.

.IS.

3 comments on “SALAH NIAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s