Another

Bulan, Bintang dan Malam.

Manusia  selalu beranggapan bahwa pemeran utama langit ketika telah gelap adalah Bulan, paling tidak Bulan dan Bintang. Tapi sebagian besar manusia pasti menganggap bahwa Bulanlah ‘pemilik’ panggung langit.

Selalu.. Bulan, Bulan, dan Bulan..

Jangankan manusia, Bintang sendiri juga menganggapnya begitu.

Padahal tidak demikian.

Manusia dan Bintang telah salah.

Terutama Bintang.

Dulu, Bintang beranggapan bahwa Bulan adalah segala-galanya.

Ia pikir, ‘Kasian Bulan..Bukankah tak lengkap rasanya langit jika Bulan sendirian, tanpa Bintang?’

Untuk itulah, Bintang ingin ia selalu hadir untuk menemani Bulan yang sudah perkasa itu.

Bulan yang dengan gagahnya bercahaya dengan wajahnya yang pucat… itulah yang buat Bintang selalu ingin bersinar buat Bulan… agar Bulan tak terlihat pucat lagi.

Dulu, Bintang juga berpikir bahwa, ‘Bukannya manusia lebih menyukai Bulan daripada langit dan seisinya?’

Maka, Bintang pun berusaha bersinar lebih terang agar manusia tak hanya mengharapkan Bulan saja. Tapi PASANGAN Bulan dan Bintang.

Bintang yang lugu juga beranggapan bahwa Bulan sebenarnya kesepian. Dibalik keangkuhannya terdiam di langit, Bulan sebenarnya merindukan sesuatu yang Bintang sendiri tidak tahu itu apa.

Bintang yang dulu ingin selalu menarik perhatian jagat dengan bersinar paling terang hingga ia bisa memanggil Bulan dan meminta sang Bulan tuk memeluk dan menciumnya.

Tapi ternyata Bintang telah salah.

Bintang salah besar.

Tiba-tiba terjadi sesuatu pada Bintang yang telah buatnya terbangun dari semua pikirnya.

Ia telah lupa pada sesuatu yang sebenarnya jauh lebih penting—bukan Cuma buat Bintang, tapi juga buat Semesta—yaitu.. Sang Malam.

Bintang alpa atas Malam.

Bintang merutuk. Merutuk atas kebodohannya.

Malam?! Mengapa ia baru tersadar sekarang?!

Sungguh bodoh.

Bukannya ada yang lebih penting daripada Bulan? Yaitu sang MALAM itu sendiri?!

Bukankah Bulan juga tak selalu hadir buat Bintang!?

Tapi Malam-lah yang selalu setia untuk memberikan punggungnya buat Bintang bersandar dan bersinar?!

Bintang baru menyadarinya.

Bukankah Malam lebih tak lengkap jika tak ada Bintang? Bukankah seharusnya Bintang bersinar bersinar seterang yang ia bisa agar malam tak selalu gelap?

Bintang yang selalu mengharap Bulan akan memeluknya…hingga tak menyadari malam yang juga lebih kesepian.

Malam yang lebih merindukan sosok yang akan membuatnya lebih semarak, lebih berwarna.

Malam yang lebih merindukan sosok yang akan membuatnya lebih dikenang manusia.

Malam yang sebenarnya lebih membutuhkan bintang yang suatu ketika akan berjuang memancarkan sinarnya agar malam tak sendiri lagi…

Apa yang membuat Bintang begitu lupa?

Seharusnya ia tahu bahwa..

Sinar Bintang tak akan pernah menyaingi Bulan… karena memang sudah takdirnya begitu.

Tapi Bintang akan menjadi Ratu Malam ketika umur Bulan telah tua dan tak lagi bisa nampak di jagat manusia.

MALAM lah cinta sejatinya!

MALAM lah pasangan yang diciptakan Allah buat Bintang.

Tapi cerca Bintang mendera lagi, ‘tapi mengapa malam hanya bisa bisu? Ia bisa berteriak lewat angin! Ia bisa melawan dengan awan!’

Tapi Malam memang hanya bisa menjawab dengan bisu. Malam mungkin punya alasan sendiri.

‘Hingga waktunya tiba, aku akan memberitahumu.’, hanya itu yang bisa Malam jelaskan..yang juga dengan susah payah didengar Bintang.

Bintang salah. Ia sadar bahwa selama ini telah salah.

Kini, Bintang ingin selalu bersinar buat Malam.

 

Ia rela berjuang bersinar lebih terang supaya Malam tak lagi gelap dan memberikan ketakutan buat manusia.

Ia rela tertatih bersinar dari tempat yang paling jauh sekalipun agar Malam tidak bersedih dan merindu dendam atas ‘sosok’ yang ia rindukan, meskipun mungkin sosok  itu bukanlah Bintang.  

Bintang rasakan, bahwa Malam adalah cintanya. Meski mungkin, buat Malam, Bintang bukanlah cintanya.

 

Bintang rasakan.. Bulan pun mungkin pucat… karena ia sebenarnya merindukan Matahari. Ia pun merindu dendam pada sosok yang Bintang dengar sangat kuat itu.

Bintang hanya berharap yang terbaik buat sahabatnya.

Bintang  ikhlas jika harus merelakan cahayanya jikalau Malam ingin menjadi terang, seterang pagi yang menghangatkan hatinya ketika di peraduan galaksi.

Bintang sadar, ia tak akan pernah cukup menyinari Malam. Ia tak sebanding dengan keperkasaan Malam. Ia sadar itu.

 

Tapi Bintang ingin Malam tahu, bahwa Malam sangat berarti buat Bintang. Lebih daripada yang Malam tahu.

 

Bintang ingin selalu bersama Malam. Tak peduli apakah Malam segelap nila ataukah menjadi terang sehingga Bintang tak terlihat walaupun bersinar seterang apapun…

Karena..

Ternyata Malam-lah selalu buat Bintang ‘hidup’.

Untuk Sang Malam—yang karenanya Bintang selalu ingin bersinar.

Kamarku, saat syahdunya Malam bertasbih.

(f.r.a)

6 comments on “Another

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s