Benarkah Ramadhan Berkah ?

Al-Qur’an menyebut bulan Ramadhan penuh berkah , Ramadhan mubarak! Ramadhan mengajarkan umat Islam pentingnya menuai keberkahan hidup. Menuju kebermaknaan hidup di dunia dan akhirat. Di dunia bisa sehat, kaya hati dan materi, diridhai Allah dan rasul-Nya. Pertanyaannya, apa sebetulnya yang membuat bulan Ramadhan itu penuh berkah ?

Pertama-tama Ramadhan ditandai dengan turunnya Al-Qur’an, satu-satunya petunjuk kebenaran dalam kehidupan seorang Muslim. Fungsi Al-Quran adalah memberikan rambu-rambu kehidupan kepada manusia, mulai dari lampu kuning, hijau, merah, dan abu-abu (grey area). Banyak sekali warna kehidupan yang perlu diketahui selain hitam dan putih. Akibat yang satu dengan lainnya masing-masing berbeda. Tidak menghalalkan segala cara dan tidak mengharamkan semua perkara. Al-Qur’an menjadi pelita bagi seseorang agar mampu menangkap rambu-rambu kehidupan dan akibatnya. Melabrak lampu kuning berakibat begini, tidak taat lampu merah menyebabkan itu, dan seterusnya. Setiap warna lampu kehidupan memiliki konsekuensi masing-masing secara langsung dalam kehidupan.

Sudah saatnya mengenal lampu-lampu kehidupan itu untuk menyikapinya sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan oleh Allah SWT melalui rasul-Nya. Jangan sampai, gemerlap lampu itu membuat terlena. Jika terlena, akan terjerumus menjadi orang yang buta warna petunjuk dan terjebak mengejar kilauan fatamorgana. Fatamorgana, termasuk godaan mata. Selalu indah dalam pandangan namun tak pernah terbukti di alam nyata. la selalu berbentuk impian dan angan-angan (tamanni) daripada harapan dan cita-cita (taraji).
Bulan Ramadhan merupakan arena pergulatan penting guna membina kualitas pribadi seseorang melalui berbagai pendidikan ruhani. Ragam ritual dan ketulusan spiritual diselenggarakan sebagai bekal menyongsong ‘peperangan’ sebenarnya dalam hidup di sebelas bulan berikutnya. Dari awal hingga akhir bulan Ramadhan adalah saat-saat menempa berbagai
pelatihan guna mendewasakan hati, pikiran, dan sikap selama ini. Berbagai ujian digelar guna membina jiwa yang kokoh dan kukuh.
Ramadhan menjadi bulan suci dan penuh berkah bagi umat Islam, karena di dalamnya terdapat ragam pengorbanan. Ramadhan menjadi berkah karena enam keutamaan; bulan diturunkannya Al-Qur’an, puasa di slang hari, shalat tarawih di malam hari, malam lailatul qadr (malam penentuan bagi hidup seseorang), pelaksanaan zakat fitrah, dan hari raya idul fitri.
Keenam peristiwa mahapenting di atas yang biasanya dilakukan selama bulan Ramadhan itu merupakan simbol-simbol tersendiri bagi kehidupan manusia. Semua kewajiban itu bukan tanpa makna. Hikmahnya kembali pada pelakunya bahkan bisa menentukan kualitas hidup seseorang di masa yang akan datang.

Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup bagi seorang muslim. Hidup dengan petunjuk berarti hidup di bawah cahaya terang benderang. Ibarat lilin yang menerangi di saat gelap gulita, Al-Qur’an menerangi umat Islam di tengah-tengah kegulitaan hidup. Di saat gelap gulita, secercah cahaya begitu berguna. Apalagi cahaya terang benderang yang menyinari seluk-beluk kehidupan dengan begitu rinci. Hidup tanpa Al-Qur’an berarti gelap tanpa cahaya. Tanpa cahaya di saat gelap berarti tanpa panduan dan kepastian kaki melangkah.
Allah SWT menggunakan permisalan matahari dan bulan sebagai petunjuk. Kebutuhan manusia pada pedoman hidup, ibarat butuhnya gelap pada cahaya. Amat berbahagia orang yang senantiasa mengikuti petunjuk Al-Qur’an. Mereka yang menyalakan cahaya untuk gelap hidupnya.

Allah SWT berfirman, Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui, (QS Yunus [la 5).
Posisi Al-Qur’an bagi seorang muslim, di camping menjadi penawar bagi segala penyakit ruhani dan jasmani juga menebar rahmat bagi diri dan lingkungan sekitarnya. Perlu membaca, menghayati, dan mengamalkan segala titah Al-Qur’an demi meraih hidup yang penuh ridha dan maghfirah Allah SWT Tanpa itu semua, Al-Qur’an tak akan menjadi pedoman apa-apa bagi para pembacanya.
Firman-Nya, “Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orangorang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian,” (QS al Isra [17]: 82).
Selain turunnya Al-Qur’an, pada bulan Ramadhan juga diwajibkan bagi umat Islam untuk berpuasa. Puasa atau shaum, berarti menahan diri dari makan, minum, bersetubuh, dan berkata-kata. Puasa yang disyariatkan dalam ajaran Islam adalah menahan makan, minum, dan bersetubuh. Mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Ritual ini hendak membidik sumber-sumber gelora hawa nafsu seorang manusia. Bukan untuk membunuh potensi nafsu –karena memang setiap manusia membutuhkannya—melainkan agar belajar mengendalikannya.

Ramadhan adalah bulan ampunan yang menyediakan tiga tahapan penting. Sepuluh hari pertama bulan Ramadhan termasuk rahmat, yang kedua maghfirah, dan ketiga dijauhkana dari api neraka. Rahmat, karena orang mulai berpuasa dengan niat meraih kasih sayang Allah SWT Seseorang akan berjuang dengan gigih agar dapat menunaikan ibadah puasa sampai batas yang ditentukan. Setelah mampu beristikamah, is kemudian dijamin Allah SWT mendapatkan ampunan-Nya. Setelah ampunan diraih, is dengan sendirinya jauh dari api neraka.

Keistimewaan Ramadhan kian bertambah lebat manakala ibadah tidak saja dilakukan sing hari dengan berpuasa. Malam harinya, berduyun-duyun umat Islam melaksanakan shalat tarawih. Shalat tarawih yang dilakukan setelah shalat Isya dan sebelum Shubuh itu, memiliki makna bahasa berhenti sejenak. Menurut Ibnu Mandzur, shalat malam hari di bulan Ramadhan dinamakan tarawih, dikarenakan ada istirahat sejenak di antara dua salam.

Tarawih harus dilakukan dengan santai dan penuh kekhusyukan karena mengandung upaya relaksasi. Tidak telalu cepat dan tergesa-gesa. Setelah kenyang diisi makanan sebelumnya, tarawih menjadi gerak bagi tubuh agar melancarkan peredaran darah. Semua makanan yang tidak lagi melemak karena gerakan shalat tarawih. Lemak akibat sari-sari makanan yang tertimbun dalam tubuh seseorang merupakan sumber penyakit yang bisa mengancam kesehatan.

Puasa di siang hari dan diteruskan shalat tarawih pada malam harinya mesti dipahami sebagai simbol sejoli dari duet antara kerja dan zikir. Keduanya mesti dijalankan secara seimbang dalam kehidupan seseorang. Bekerja mencari nafkah di siang hari, dan berzikir saat malam hari. Allah SWT berfirman, Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malammu sebagal pakaian, dan Kami jadikan slang untuk mencari penghidupan, (QS an Naba (78): 9-11).

Siang dan malam, tentu saja bukan sekedar variasi waktu dan hiasan hidup. Tapi, simbol dan tanda-tanda tertentu yang memiliki fungsi masing-masing. Keduanya mesti difungsikan dalam rangka memupuk ketakwaan kepada Allah SVVT Menyalahi fungsi salah satunya, berarti menyalahi keseimbangan hidup sekaligus pertanda hilangnya nilai ketakwaan dalam diri seseorang.
Manusia dan waktu merupakan dua kata kunci yang memiliki makna penting dalam kehidupan. Perjalanan waktu merupakan kebenaran dan kepastian yang tak terelakkan. Waktu dalam kehidupan manusia adalah awal yang memiliki akhir. Manusia akan rugi jika tidak mampu mengisi waktu guna menyongsong akhir hidup yang bahagia.

Orang yang beriman memiliki daya, kekuatan, dan kemampuan untuk mengisi waktu-waktu hidupnya. Hidup bagi seorang mukmin adalah kepastian akan kefanaan dunia dan keabadian akhirat. Seorang mukmin memiliki tujuan hidup yang jelas, cita pasti, kebenaran mutlak, dan konsep tegas mengenai kebahagiaan hakiki.

Menggunakan waktu dalam poros keimanan adalah mengisi waktu dengan zikir, kerja, dan istirahat. Allah SWT berfirman, Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai, (QS Al A’raf (7): 205).

Orang yang tidak pandai menggunakan waktu, akan sia-sia hidupnya. Hidupnya tidak terbingkai oleh makna dan kebenaran. Sekalipun waktunya terisi, namun tanpa tujuan maupun gantungan nilai yang berarti. Kerugian moral dan material seandainya seseorang membalikkan fungsi slang di malam hari dan sebaliknya. Seperti, malam hari begadang dan slang harinya malah tidur bermalas-malasan karena lemas tidak tidur semalaman. Corak kehidupan seperti itu jelas tidak produktif dan menyehatkan. Tidur satu jam di malam hari sangat begitu berarti sehingga tidak akan sebanding dengan tidur lima jam sekalipun di slang hari. Dari segi kesehatan pun kurang mendukung. Selain tidak sesuai fitrah, kebiasaan tersebut membuat seseorang hidup tidak teratur dan kurang mengoptimalkan hidup dengan memperbanyak zikir dan kerja.

Allah SWT berfirman, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan slang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya, (QS ar Rum [30]: 23).
Puasa dan tarawih adalah keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat. Tidak terlena bekerja untuk dunia sementara akhirat terlupakan. Tidak luput kewajiban duniawi demi memenuhi kebutuhan akhirat semata. Dua-duanya penting, mesti sating mendukung, tidak bisa dipisah satu sama lainnya. Sikap keliru jika melulu memenuhi hasrat duniawi tapi bekal untuk hidup di akhirat terabaikan, dan sibuk memburu bekal untuk akhirat namun kebutuhan dunia dikesampingkan.

Orang-orang yang mampu mempergunakan slang dan malam sesuai fungsinya, termasuk seorang mukmin yang sukses. Mukmin yang sukses, tidak saja mendapatkan keuntungan materi di dunia tapi juga mampu meraih pengampunan berupa ridha dan maghfirah dari Allah SWT Begitu berkah hidup seseorang apabila cukup materi di dunia dan kaya akan ampunan Allah SWT kelak di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang mengerjakan puasa/shalat tarawih pada bulan Ramadhan didasarkan atas keimanan dan mengharap
ridha Allah (ihtisaban), maka telah diampuni dosadosanya yang telah lalu, HR Imam Bukhari).

Peristiwa mahapenting berikutnya di bulan Ramadhan ialah malam penentuan atau yang terkenal dengan sebutan lailatulqadr. Malam yang berarti malam penentuan tersebut menjadi momentum penting untuk mengubah diri dalam hidup seribu bulan ke depan (khairun min alfi syahrin).

Hidup menjadi lebih balk selama seribu bulan –83 tahun 4 bulan, umur maksimal seorang manusiamerupakan jaminan pasti bagi mereka yang berhasil menyelami keistimewaan malam ini. Lailatulqadr akan menjadi momentum istimewa bagi mereka yang mendapatkannya guna merumuskan, mematangkan, dan mencita-citakan kemuliaan hidup.

Jatah hidup adalah apa yang bisa dimanfaatkan dan diisi semaksimal mungkin. Sepersekian nol detik ke depan adalah hal gaib bagi siapa pun. Mempergunakan kesempatan adalah pilihan sehat yang tidak bisa ditawar lagi. Umur yang panjang adalah berkahnya umur seseorang meskipun pendek usianya. Sebaliknya, orang yang pendek umur adalah yang sedikit amal baiknya meskipun umurnya ratusan tahun.
Setelah mendidik empati sosial setiap individu melalui puasa, saatnya empati itu diteruskan dengan wujud pemberian nyata bagi mereka yang telah mampu membayar zakat (nishab).
Menjelang usai bulan Ramadhan , umat Islam diperintahkan membayar zakat fitrah dalam rangka membantu fakir miskin. Sesuai makna harfiahnya, zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan harta dan kepemilikan dari hak orang lain yang masih tersimpan di dalamnya.

Zakat fitrah berfungsi bolak-balik; secara internal untuk membersihkan kekayaan dan eksternal guna membantu meringankan penderitaan orang lain. Sebab, pendapatan seseorang belum tentu merupakan hasil bersih tanpa adanya unsur penipuan, merugikan orang lain, meraup keuntungan besar-besaran, balk disengaja maupun tidak. Secara eksternal, memenuhi pembayaran zakat ini bisa meredam aksi kejahatan yang diakibatkan tingginya angka pengangguran, kesenjangan sosial, dan rapuhnya mentalitas orangorang di sekitarnya akibat kefakiran dan kemiskinan. Meski tidak berzakat, kekayaan seseorang tetap terancam incaran orang-orang jahat akibat kemiskinan dan kelaparan di sekelilingnya.

Zakat memberikan arti penting pada kehidupan bermasyarakat. Hak seseorang, ada pada kewajiban orang lain. Begitu pula sebaliknya, hak orang lain banyak yang dititipkan padanya. Hendaknya seseorang tidak dulu menganggap apa yang menjadi miliknya adalah miliknya sebenarnya. Khawatir, banyak sekali amanah kekayaan bagi orang lain yang kemudian dititipkan oleh Allah SWT kepadanya. Orang kaya yang kikir, berarti tidak menyadari harta kekayaannya, hakikatnya titipan untuk orang miskin dan berkekurangan.

Tokh, yang dianjurkan untuk diberikan kepada orang lain adalah kelebihan dari yang dimilikinya. Seseorang tidak diperintahkan memberikan seluruh harta kekayaan tanpa tersisa. Allah SWT berfirman, Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir, (QS al Bagarah [2]: 219).

Siapa pun orangnya yang bisa melewati lima tahapan di atas, niscaya mendapatkan hikmah tertinggi bulan Ramadhan . Yaitu, dirinya kembali suci pada fitrah kemanusiaannya (idul fitri). Saat-saat dimana dirinya merasa menjadi manusia, seorang manusia baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s